Ada Cairan Di Mata (Pengalaman berobat di Rumah Sakit Mata Solo)

Rumah Sakit mata Solo

Rumah Sakit Mata Solo

Sekarang aku berusia 35 tahun. Aku berkacamatan kana-kiri masing-masing plus 1,5. Padahal masih muda ya. :D. Mata kiri kena plus secara alami, hehe. Kalau yang kanan memang sudah bermasalah sejak kecil. Dulu kananku tertimbun bubuk kapur (sepiring) saat aku bermain di proyek pembangunan rumahku di Banjarnegara, Jawa Tengah. Kata bapakku sih waktu itu aku demam sepala sepakan !!! Yah, namanya juga anak-anak.

Saat ini aku mengalami masalah dengan mata. Sekitar dua hari yang lalu (Rabu, 12 Juni 2013) aku menyadari bahwa mata kananku tiba-tiba berasa ada spot atau bayang-bayang saat berkedip. Rasanya seperti kalau kita habis melihat lampu yang menyilaukan, nah biasanya setelahnya akan tersisa bayang-bayang di mata saat kita berkedip. Kalau yang itu warnanya putih atau merah, yang aku alami ini warnanya cokelat. Spot nya itu nggak besar sih, kira-kira kalau kita berhadapan dengan orang berjarak satu meter, wajahnya tertutup semua.. Spotnya juga enggak nutup panadangan mata secara total, tetapi masih tembus pandang atau seperti water mark.

Awalnya ini kukira disebabkan setelah aku menatap lampu yg terang. Tapi setelah kuingat-ingat, enggak juga. Sehari sebelumnya memang aku duduk di sisi panggung saat artis Tompi tampil di sebuah acara penghargaan brand index terbaik Solo-Jogja di Solobaru. Tapi saat itu aku nggak berhadapan dengan lampu kok.

Lalu aku pikir spot atau bayang-bayang itu akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa saat. Tetapi ternyata masih ada hingga keesokan harinya (Kamis). Lalu aku nyoba melihat ke bidang yang agak terang (tembok warna cerah) ternyata spot atau bayang-bayang itu tetap ada, bahkan saat mataku enggak berkedip (dengan sedikit lebih berkonsentasi).

Waduh, pasti ada yang enggak beres dengan mataku. Akhirnya, Jumat (hari berikutnya) aku memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit Mata Solo (Jl Adisucipto, timur Tugu Makuta Dewa, Karangasem, Solo) yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari kantorku.

Well, supaya aku ingat prosedur di sana, aku ceritain juga prosedur pemeriksaan yg aku jalani. Di RS itu aku diarahkan oleh Security untuk mengambil antrian pendaftaran di meja resepsionis/pendaftaran, secara aku ini pasien baru di sana. Di meja ini aku dipinjam KTP nya untuk direkam datanya. Lalu aku dikasih kartu member rumah sakit, sekaligus KTP ku dikembalikan dan diberi dua tiket antrian. Satu lembar untuk ruang periksa lensa mata, dan satunya untuk periksa dokter. Karena pagi itu aku pasien pertama, aku nggak perlu nunggu untuk antre di ruang periksa lensa mata. Dengan alat tertentu, aku disuruh menghadap ke sebuah lubang bidik, dan kemudian masing-masing mata di-”tembak” tigak kali. Rasanya kaya ada embusan angin sekejap. Katanya itu untuk mengukur tekanan mata. Selanjutnya, aku di pindah ke tempat duduk lain di ruangan yang sama. Dengan seperangkat lensa, aku diminta menyebutkan huruf yang ada sekitar 3 meter di depan saya, mulai huruf besar hingga huruf kecil. Hasilnya, ya gitu deh, kayaknya mata kiriku memang sudah plus dan yang kanan silinder parah.

Lalu aku keluar dan menunggu panggilan dokter Amania Fairuzia SpM di salah satu sudut lantai 1 (RS nya 4 lantai). Setelah masuk dan mengatakan keluhanku (juga berdasarkan pemeriksaan lensa itu), aku diminta foto mata di lantai dua. Oke deh. Di perjalana ke lantai dua, aku ditemani oleh dua perawat. Sambil jalan kutanyakan ongkos foto mata itu berapa? Katanya Rp 155.000. Alhamdulilaaahhhh, batinku. Aku perkirakan dengan uang di kantong masih cukup jika nanti ditambah dengan ongkos pendaftaran, periksa dan obat.

Saat foto, nggak beda jauh dengan saat pemeriksaan tekanan mata. Aku diminta menempatkan mata di lubang bidik. Di dalam lubang bidik itu aku melihat tiga kotak (berlapis) yang terbuat dari sinar hijau dan sebuah tanda plus (+) tepat di tengahnya. Ada juga garis merah horizontal yang berkerang dari atas ke bawah dan sebaliknya, seperti lampu bar code di swalayan gitu. Foto itu diberlakukan buat kedua mataku. Setelah difoto, aku kembali turun ke lantai 1 untuk dijelasin mengenai hasil fotonya olek dokter.

Dokter mengatakan, hasil foto menunjukkan, di pusat penglihatanku ada cairan. Sebagian besar pasian dapat disebuhkan dengan pengobatan luar dalam jangka waktu 3 bulan. So, aku dikasih obat tetes mata Nevanac dan vitamin Asta Plus. Selain itu aku musti balik lagi tiap bulan untuk dicek cairan matanya dengan foto mata tadi. Penyebabnya apa si Dok?, aku tanya. “Penyebabnya kebanyakan adalah stres,” kata dia.

Btw, total biaya yang dikeluarkan untuk masalah saya kali ini Rp 432.900. Pendaftaran Rp 15.000, pemeriksaan penunjang Rp 20.000, Optical Coherence Tomograph (OCT) Rp 155.000, Rp Nevanac ED 1 botol Rp 102.900, Asta Plus 10 bj Rp 55.000, Condensing lens Rp 25.000, konsultasi dokter Rp 60.000.

Satu gagasan untuk “Ada Cairan Di Mata (Pengalaman berobat di Rumah Sakit Mata Solo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s