Jadi Ayah ASI, Bisa Tapi Nggak Gampang

Abisali Kaysan RL saat dirawat di RS PKU Muhammadiyah Solo 2011

Abisali Kaysan RL saat dirawat di RS PKU Muhammadiyah Solo 2011

Memiliki bayi dengan asupan air susu ibu (ASI) eksklusif mungkin menjadi impian sebagian besar pasangan. Ini cukup beralasan karena banyak penelitian dan literatur yang memberikan informasi tentang perlu dan pentingnya ASI ekslusif bagi tumbuh-kembang anak.

Namun seringkali keinginan tersebut kandas. Ternasuk saya yang juga mengalami hal serupa. Anak pertama kami (perempuan) yang lahir 13 Februari 2007 lalu terpaksa sudah tidak mendapatkan ASI ekslusif sejak berusia beberapa hari. Selebihnya, susu formula menjadi andalan asupannya. Penyebab utama “kegagalan” dalam pemberian ASI eksklusif yang saya rasakan adalah minimnya pengetahuan tentang hal tersebut.

Saat itu saya dan istri tidak tahu bagaimana cara menyusui yang benar. Akibatnya istri sering merasa ASI yang keluar tidak banyak. Bahkan cara menyusui yang salah menyebabkan luka di organ menyusui yang kata istri saya sangat menyakitkan. Istri juga sudah mencoba memerah ASI dengan alat perah agar ASI tetap bisa diberikan dengan botol-dot. Namun lagi-lagi cara memerah dengan alat pun dilakukan dengan cara biasa (keliru) sehingga ASI yang keluar tidak sesuai harapan. Selain itu istri hanya tahu bahwa dengan mengonsumsi jenis makanan tertentu dapat menjadi booster atau pendodong produksi ASI. Namun ternyata hal tersebut tidak dapat dijadikan hal yang utama, butuh dukungan lainnya.

Saat itu kami juga tidak tahu bahwa ASI bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu di lemari pendingin, sehingga kami tidak memiliki botol penyimpan ASI. Terlebih lagi, istri saya yang bekerja full time (setelah cuti melahirkan habis) membuatnya merasa tidak bisa berbuat banyak untuk menyiapkan cadangan/stok ASI untuk si bayi di rumah.

Rentetan ketidaktahuan itu membuat istri (dan saya) seolah putus asa. Solusi sederhana yang kami pilih adalah mengganti atau menambahkan ASI dengan susu formula untuk si bayi. Memang tidak ada yang salah dengan memberikan susu formula. Sebagian orang, termasuk tetangga saya juga melakukan hal yang sama. Namun batin kami sebenarnya tidak “ikhlas” dengan tambahan susu formula itu. Kami masih merasa “bersalah” karena tidak memberikan hak anak kami dengan baik.

Sekitar empat tahun kemudian istri saya hamil anak kedua. Ada rasa bersyukur karena kami akan dikaruniai anak lagi. Terselip juga perasaan khawatir bahwa nanti kami tidak bisa memberikan ASI eksklusif. Namun dengan pengalaman pada anak pertama, justru kami termotivasi untuk belajar lebih banyak. Saat masih hamil ini istri saya bergabung dengan forum ASI eksklusif di dunia maya. Artikel-artikel tentang ASI di internet juga menjadi bacaan wajib kami di sela-sela waktu luang, bahkan saat berada di toilet.

Berbekal pengetahuan tersebut, kami sudah mempersiapkan diri sejak anak kedua saya belum lahir. Kami menyisakan uang kami untuk membeli peralatan seperti botol penyimpan ASI, pemerah ASI elektrik untuk memerah di saat berada di kantor, alat steril botol dan sebagainya. Sebagian orang bilang buat apa beli-beli kayak gituan. Tapi bagi kami itu sebuah pengorbanan yang wajar untuk mewujudan cita-cita kami.

Tibalah saatnya anak saya (laki-laki) lahir pada 19 Agustus 2011 (waktu itu bulan puasa ramadan) melalui operasi caesar di sebuah rumah sakit di Solo (Jawa Tengah). Saat itu kami merasa sudah lebih siap merawat bayi soal ASI eksklusif. Benar saja, sesaat setelah lahir istri sudah bisa menyusui dengan benar. ASI yang keluar juga banyak dan anak saya terlihat sangat kecukupan dan sehat. Sayangnya ada sedikit penyakit kuning pada anak saya. Kata dokter, penyakit ini sangat umum diderita bayi zaman sekarang dan bisa diterapi sederhana dengan berjemur matahari pagi. Setelah Istri cukup kuat secara fisik, kami pun diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Sayangnya penyakit kuning anak saya memburuk (kadar bilirubin penyebab kuning meningkat) sehingga baru beberapa hari di rumah, si bayi harus kembali ke rumah sakit untuk diterapi khusus dengan sinar di ruang isolasi.

Saat inilah usaha kami memberikan ASI ekslusif diuji. Sebab, dalam kondisi seperti itu istri dan si bayi harus berpisah. Istri saya masih dalam masa penyembuhan luka caesar dan harus beristirahat di rumah atau setidaknya tidak boleh sering-sering pergi, sementara anak saya di rumah sakit yang berjarak sekitar 10 kilometer dari rumah. Lalu bagaimana istri saya menyusuinya? Terbayang kesedihan kami, terutama istri saya.

Sebagai seorang suami, saya terus menguatkan istri agar selalu bersabar. Memberikan pengertian bahwa si bayi pasti dirawat dan diawasi dengan intensif oleh dokter dan perawat di rumah sakit. Mereka juga menawarkan susu formula untuk si bayi selama terapi, tetapi saya bilang jangan dulu deh. Lalu saya bertanya kepada istri saya, “Masih ingin memberikan ASI ekslusif kan”? Istri saya pun mengangguk. Saat itu juga saya meminta istri untuk memerah ASI sebanyak-banyaknya. ASI itu nanti akan saya kirim ke rumah sakit. Takut sang bayi kekurangan ASI, saya bergegas pergi dengan membawa botol ASI seadanya. Saat itu ada tiga botol yang masing-masing berisi 40 ml.

Ternyata anak kami doyan minum ASI sehingga persediaan di rumah sakit hanya cukup untuk beberapa jam. Saya pun terus memotivasi agar istri terus memerah ASI di rumah lalu disimpan di lemari pendingin. Tapna terasa lelah saya bolak-balik setiap saat untuk mengantar ASI dan memgambil botol ASI yang sudah kosong. Tak peduli di pagi yang mengantuk, siang yang panas (alhamdulillah tetap berpuasa), sore yang melelahkan, malam yang dingin menusuk tulang, bahkan sebelum makan sahur saya tetap mengatar ASI untuk anak saya. Kapanpun perawat memberitahu (via telepon) persediaan ASI kami hampir habis, saya langsung bergegas menjadi “loper” ASI.

Mengapa saat itu perahan ASI dari istri saya cukup banyak? Selain dari cara yang benar dan makanan yang terjaga, juga usapan tangan suami saat istri memerah dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan hingga dapat mendorong produksi ASI meningkat.

Sementara itu, kami bersyukur karena mungkin dengan asupan ASI yang mencukupi itu anak saya bisa keluar rumah sakit pada hari keempat dengan kadar bilirubin yang normal.

Perjuangan saya untuk ASI ini terus saya lakukan hingga anak saya berusia enam bulan (selanjutnya sudah ada makanan pendamping ASI). Tentu perjuangan ini tidak terlepas dari semangan istri. Saat dia bekerja, dia tetap menyempatkan waktu istirahatnya untuk memerah ASI kemudian disimpan di cooler bag sehingga ASI tetap segar sebelum dibawa pulang dan dipindah ke lemari pendingin di rumah. Saat istri pulang malam, saya pun menjemput ASI di kantornya untuk dibawa pulang agar ASI tidak rusak.

Apapun soal ASI untuk anak, saya akan melakukannya. Hingga suatu hari istri bilang bahwa saya adalah Ayah ASI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s